PURBALINGGA — Siang itu, Jumat, 28 Agustus 2026, halaman SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga terasa sedikit berbeda. Sebuah bus membawa rombongan tamu dari jauh. Mereka datang bukan sekadar untuk bertandang, melainkan membawa semangat yang sama: belajar, berbagi, dan menemukan cara baru untuk menjadikan sekolah semakin bermutu. Sebanyak 36 personel dari FORSIL SMK JAS-2 (Forum Silaturahim Kepala SMKS Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Selatan) tiba di SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga dalam sebuah kunjungan silaturahmi dan studi tiru. Ada cerita yang hendak dibawa pulang dari Purbalingga, terutama tentang bagaimana sebuah sekolah kejuruan menghidupkan pembelajaran melalui Teaching Factory (TEFA).
Rombongan diterima dalam acara pembukaan yang berlangsung di aula SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga. Suasana hangat segera tercipta. Jarak antara Jakarta Selatan dan Purbalingga seakan menghilang ketika para pengelola sekolah swasta bertemu dalam satu ruang, berbicara tentang masa depan pendidikan vokasi. Suharti, S.Ag., M.M., selaku Plt. Kepala SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga, dalam sambutannya mengungkapkan rasa senang sekaligus haru karena sekolah yang dipimpinnya dipercaya menjadi tempat studi tiru. Baginya, kunjungan tersebut bukan sekadar penghargaan, tetapi juga sebuah amanah untuk terus membangun sekolah yang mampu memberikan inspirasi. Kepercayaan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan dapat menjadi cahaya bagi sekolah lain yang sedang menempuh perjalanan serupa. Sementara itu, Joko Suranto, S.E., M.M., Ketua FORSIL JAS-2, mengawali sambutannya dengan memperkenalkan 36 personel yang hadir dalam rombongan. Ia menyampaikan bahwa kunjungan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu sekolah sekaligus mempererat tali silaturahmi antarsekolah swasta. Studi tiru secara khusus diarahkan pada program dan pengelolaan Teaching Factory, terutama praktik baik yang telah diterapkan oleh SMK yang menyandang predikat SMK Pusat Keunggulan.
Setelah acara pembukaan selesai,
perjalanan belajar pun dimulai. Rombongan bergerak menelusuri ruang-ruang praktik
siswa. Mereka melihat lebih dekat bagaimana suasana pembelajaran vokasi
dibangun, bagaimana sarana praktik dimanfaatkan, serta bagaimana program
keahlian mengembangkan unit produksi sebagai bagian dari Teaching Factory. Langkah
kemudian berakhir di Ruang Praktik
Siswa (RPS) Program Keahlian Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB). Di tempat
inilah cerita tentang Teaching Factory MPLB SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga
menemukan bentuk nyatanya.
Kunjungan dipandu langsung oleh Didik Riyanto, S.Pd., selaku Ketua
Program Keahlian MPLB. Di hadapan rombongan, ia menjelaskan implementasi
Teaching Factory MPLB yang dikembangkan dalam bentuk POSSEKOLAH, sebuah unit produksi layanan yang memberikan
pengalaman belajar kepada peserta didik melalui aktivitas pelayanan yang
menyerupai dunia kerja sesungguhnya.
Ketika Ruang Praktik Menjadi Ruang Kerja
POSSEKOLAH merupakan unit produksi/Teaching Factory MPLB SMK Muhammadiyah
1 Purbalingga yang dikembangkan untuk menghadirkan pembelajaran vokasi yang
selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Ditetapkan sebagai Agen Resmi PT Pos Indonesia (Persero) Cabang
Purbalingga dengan kode dirian 53316C2
pada 10 Maret 2021. Pada awal pengembangannya, unit ini melayani berbagai
kebutuhan layanan pos, seperti benda pos dan jasa pengiriman. Seiring
perkembangan kebutuhan masyarakat, POSSEKOLAH kemudian lebih menitikberatkan
pada layanan PosPay, antara lain
pembayaran BPJS, PLN, PDAM, pulsa, paket data/internet, serta berbagai
transaksi layanan keuangan lainnya.
Hari itu, sebuah bus datang dari Jakarta Selatan membawa puluhan
kepala sekolah. Namun yang sesungguhnya datang bukan sekadar sebuah rombongan melainkan semangat untuk tumbuh bersama. Dan ketika rombongan itu
kembali pulang, barangkali ada sesuatu yang ikut mereka bawa: bukan hanya
catatan tentang Teaching Factory, bukan hanya dokumentasi tentang POSSEKOLAH,
tetapi juga sebuah keyakinan bahwa sekolah
swasta dapat saling menguatkan, saling menginspirasi, dan bersama-sama
membangun pendidikan yang bermutu, unggul, dan berdaya saing.
Dari Purbalingga, sebuah cerita tentang praktik baik kembali menemukan jalannya. Sebuah cerita bahwa silaturahmi dapat menjadi jembatan pengetahuan, studi tiru dapat menjadi jalan perubahan, dan kolaborasi dapat menjadi energi untuk memajukan pendidikan vokasi. (D/R)




Komentar
Posting Komentar